Sebut saja aku Asri, aku hidup dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah pedesaan. Hidup sederhana di desa bersama keluarga yang hampir tiap hari bisa bertemu, lengkap sudah kebahagiaanku. Namun dibalik itu semua ada sesuatu yang mengganjal dalam hatiku, seperti ada yang masih kurang, tapi apakah itu?
Aku hidup layaknya orang desa pada umumnya, bekerja di sawah membantu keluarga atau mencari kayu di hutan. Namun ada satu hal yang tidak pernah kusukai dalam keluargaku yaitu masalah agama dan juga ayah tiriku. Bukan masalah perbedaan agama, tapi lebih tepatnya Krisis agama dalam keluargaku. Orang tuaku kurang memberikan pendidikan agama padaku, hanya sekali-sekali ibu mengajarkanku sholat dan mengaji.
"Nak... kita belajar sholat dan mengaji yuk. Ibu juga mau ngajarin anak-anak yang lain juga" kata ibuku sambil memandangku. Alangkah senangnya hatiku mendengar kata-kata yang keluar dari bibir ibuku.
Untuk yang masalah ayah tiriku, sebenarnya tak ingin aku membahas masalah dia. Dia sosok yang keras, mudah marah dan suka memukul. Kehadirannya tidak kuharapkan masuk kedalam hidupku, tapi demi ibuku aku cuma bisa menerima meskipun hanya setengah hati saja. Kami jarang sekali berbicara berdua atau saling menyapa, meskipun tinggal dalam satu rumah.
"Gubraaaakkkk..." suara itu muncul dari dalam rumah dan disusul dengan suara teriakan dan tangisan, dengan segera aku masuk ke dalam rumah. Tak kuasa aku menahan air mata, ibuku sudah berlinang air mata, sedangkan ayah tiriku membanting meja yang terbuat dari kayu. Aku tahu sebenarnya kayu itu hendak dia pakai untuk memukul ibuku, tak bisa ku tahan air mataku dan aku menangis histeris tak kuat melihatnya.
Aku begitu benci dengan hidupku dan juga ayah tiriku, seolah-olah dunia itu kejam terhadapku. 16thn lebih aku hidup dalam keluarga yang berantakan, setiap hari hanya pemandangan yang tak mengenakkan, bahkan aku mengalami trauma berat.
Tahun 2007 aku memutuskan untuk bekerja dan berharap keadaan keluargaku bisa lebih baik. Aku ingin menata hidupku dan ingin belajar ilmu agama. Pertama kali bekerja sebagai pembantu rumah tangga, disitulah aku tahu betapa pentingnya agama dalam kehidupan manusia, menjalankan sholat 5 waktu yang hampir jarang aku lakukan sewaktu di kampung. Aku menemukan salah satu apa penyebab kekurangan yang selama ini aku pertanyakan, yaitu Sholat.
Suatu ketika aku melihat seorang perempuan berpakaian rapi dan berjilbab, "alangkah cantiknya wanita itu" pikirku. Berawal dari situlah ada keinginan dalam hatiku untuk berhijab. Akhirnya aku utarakan niatanku kepada ibuku bahwa aku ingin memakai jilbab, tapi ibuku malah berkata "berjilbab itu tanggung jawabnya besar, kalau sudah memakai ga boleh dilepas lagi, apa kamu sudah siap?", akhirnya aku berpikir lagi dan mengurungkan niat itu.
Beberapa tahun kemudian aku hijrah ke kota besar untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, namun ujung-ujungnya aku bekerja sebagai pembantu lagi. Perjalanan tak berhenti disitu saja, cobaan datang silih berganti, perkenalanku dengan seorang laki-laki justru membuatku jauh dari agama, hidupku jadi berantakan, padahal aku sudah ada niatan untuk bisa berubah menjadi perempuan yang lebih baik dan pada Sang pencipta. Namun itu tak berlangsung lama, orang-orang terdekatku mampu membuka pintu hatiku yang telah dibutakan oleh cinta yang salah, cinta yang haram dihadapan Allah SWT.
Setelah kejadian itu, aku kembali pada niatan awalku. Aku beranikan diri untuk bicara kepada majikanku "Bu... asri ingin sekolah lagi". "loh..asri mau sekolah apa? apa masih bisa? kata ibu majikanku padaku. "asri mau sekolah bu, ambil paket C" jawabku. "oh gitu, ya sudah gak apa-apa, kamu cari info saja nanti ibu bantu kamu daftar kesana" katanya.
Aku bersyukur sekali. Beberapa minggu kemudian aku bisa endapatkan info yang cukup dan aku bisa sekolah sambil bekerja. Meskipun orang tuaku awalnya tidak setuju.
Sampai suatu saat seperti ada hidayah yang Allah berikan kepadaku, aku ingin sekali memakai jilbab. Awalnya memang agak aneh karena belum terbiasa, namun lama kelamaan semua itu bisa diatasi. Setahun pun berlalu, aku mulai menta hidupku kembali dari nol. Setelah lulus ujian aku putuskan untuk kuliah, bertemu dengan lingkungan baru.
Semakin hari aku semakin ingin mempelajari ilmu agama, bagaimana menjadi perempuan yang baik, berhijab yang benar dengan bantuan teman-teman di kampusku. Semakin hari aku semakin ingin mengenal islam, aku mulai mengoleksi dan mempelajari semua tentang islam, terlebih lagi buku yang yang membahas tentang muslimah yang baik.
Akupun mulai merubah penampilanku agar lebih rapi dan syar'i. Tentu tak semudah membalikkan kedua tangan, cobaan masih datang silih berganti. Pernah suatu saat teman laki-lakiku berkata kepadaku "As, kamu itu terlalu tertutup, masa sampai berjabat tangan dengan cowok saja kamu ga mau, ga takut apa kalau kamu nanti ga ada yang naksir?", hati tiba-tiba deg begitu saja. Namun aku jawab dengan santai dan jelas "Mas...aku melakukan itu semua karena Allah, Dia melarang perempuan untuk bersentuhan dengan yang bukan mahramnya". Tidak hanya teman laki-lakiku, teman perempuanku pun bicara seperti itu kepadaku.
Tapi itu aku anggap batu kerikil yang harus ku lewati, suatu saat mereka juga akan mengerti. Kini aku bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan sekarang, bersyukur kepada Allah SWT atas semua nikmat yang Ia berikan kepadaku. Berhijab dan bisa melanjutkan kuliah itu adalah anugerah yang sangat luar biasa. Kini aku bisa menata kembali keluargaku, dan berharap ayah tiriku mendapatkan hidayah dan bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik.
Aku percaya, tidak ada impian yang tidak bisa dicapai jika kita mau berusaha mewujudkannya. Man Jadda WaJada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar